tugu UNJ

tugu UNJ
tampilan1

Arsip Blog

World Clocks

Bagaimana Tanggapan Anda Mengenai Blok Ini ?

Tugas Jurnal


ISMAIL ADIWIJAYA / 5215080279


Pend. Tek. Elektronika





KORELASI ANTARA PENGISIAN PONSEL DARURAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA ANTARA BIDANG GARAPAN ELEKTRO DAN ELEKTRONIKA



ISMAIL ADIWIJAYA / 5215080279

Lestari Widyatiningtiyas / 5215013375

Universitas Negeri Jakarta

S1 Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika

PENGISI BATERAI PONSEL DARURAT

Pendidikan Teknik Elektronika,Universitas Negeri Jakarta.

Kata Kunci : Ponsel, Pengisi Baterai

(X + 24 + Lampiran)

Telepon selular yang lebih dikenal dengan sebutan ponsel atau handphone. Merupakan perangkat telekomunikasi elektronik yang wajib dimiliki, selain memudahkan dalam berkomunikasi, ponsel juga dapat membuat jarak dan waktu semakin dekat. Hal yang paling penting dalam penggunaan ponsel adalah baterai, karena baterai merupakan salah satu komponen paling penting yang ada dalam ponsel. Oleh karena itu, agar baterai ponsel selalu dalam keadaan hidup maka penulis berinisiatif untuk membuat pengisi baterai ponsel darurat, apabila baterai ponsel dalam keadaan low atau daya baterai menipis. Selain menghemat waktu, pengguna ponsel dapat mengisi baterai ponsel kapanpun dan dimanapun tanpa harus menggunakan listrik. Rangkaian pengisi baterai ponsel darurat ini membutuhkan sumber tegangan DC 5 – 15V, dapat menggunakan accu 12V atau baterai 9V. Tidak sulit untuk pembuatan rangkaian ini dan membutuhkan waktu yang tidak lama untuk membuatnya serta biayanya pun cukup mudah dijangkau. Pada ponsel merk lg dengan tipe baterai LGIP-53IE dapat diisi dalam waktu tiga jam dengan menggunakan baterai, apabila menggunakan accu dapat diisi selama dua jam setengah. Untuk mengoperasikan alat ini cukup mudah, pertama hubungkan konektor pada accu atau baterai kemudian switch on setelah itu hubungkan charger ponsel pada output. Untuk baterai merk Nokia dengan semua tipe baterai tidak dapat diisi dengan menggunakan baterai 9V, jadi gunakan accu 12V untuk mengisinya, selain baterai ponsel merk nokia dapat diisi dengan baterai 9V seperti Sony Ericsson, Motorola, Samsung, LG dan Huawei. Alat ini juga tidak perlu menggunakan listrik untuk mengoperasikannya.

Daftar Pustaka (1981 – 2006)


Latar Belakang

Telepon selular yang lebih dikenal dengan sebutan ponsel atau handphone. Merupakan perangkat telekomunikasi elektronik yang wajib dimiliki, selain memudahkan dalam berkomunikasi, ponsel juga dapat membuat jarak dan waktu semakin dekat. Saat ini ponsel sudah dilengkapi berbagai pilihan fitur, selain bisa menangkap siaran radio, perangkat lunak ini dapat digunakan sebagai pemutar audio, video, kamera digital, game, dan layanan internet. Tapi terkadang para pengguna ponsel lupa bahwa fitur yang ditanamkan pada ponsel membutuhkan daya baterai yang cukup besar agar fitur tersebut tidak sia-

sia untuk digunakan, maka ketika daya baterai ponsel habis pengguna ponsel tidak dapat lagi menggunakan ponsel untuk sementara hingga baterai ponsel diisi ulang dan kembali terisi.

Low-batt atau daya baterai menipis merupakan hal yang sudah biasa. Tinggal mencolokkan jack charger ke ponsel lalu baterai ponsel akan kembali terisi. Dikarenakan kesibukan yang seperti tidak ada hentinya terkadang para pengguna ponsel sering lupa untuk mengisi baterai ponsel ketika daya baterai ponsel hampir habis. Dan menginginkan sesuatu yang cepat dan mudah agar ponsel kembali terisi. Tapi sekarang sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengisi baterai ponsel, selain menggunakan pengisi baterai biasa dengan menggunakan listrik. Mulai dari mengisi baterai ponsel dengan menggunakan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya.

Alternatif lainnya yaitu mengisi baterai ponsel dengan menggunakan accu 12V atau dapat juga menggunakan baterai 9V. Selain menghemat waktu, pengguna ponsel dapat mengisi baterai ponsel kapanpun dan dimanapun tanpa harus menggunakan listrik. Dan ketika baterai ponsel diisi, ponsel dapat digunakan tanpa harus meninggalkan ponsel sewaktu proses pengisian berlangsung.

Ruang Lingkup

Pada pembahasan ini penulis akan membahas seputar prinsip atau cara kerja rangkaian Pengisi Baterai Ponsel Darurat yaitu mengisi baterai ponsel menggunakan sumber tegangan 5V – 15V DC. Accu 12V atau baterai 9V dapat digunakan sebagai sumber tegangan.


Metode Penelitian

Dalam menyusun Penulisan Ilmiah ini, penulis menyelesaikan dengan menggunakan beberapa metode :

a. Menguji coba rangkaian pada Protoboard, sebelum pembuatan layout pada PCB, terlebih dahulu rangkaian di uji coba pada Protoboard, seperti pemasangan IC 555, kapasitor, resistor, transistor, potensiometer dan lilitan, guna mendapatkan hasil yang diinginkan.

b. Pembuatan layout pada PCB, setelah uji coba pada Protoboard kemudian pembuatan layout dan dicetak pada PCB dengan menggunakan spidol atau sablon, yaitu dengan cara fotokopi transparan layout dan kemudian dipanaskan dengan menggunakan setrika. Dapat juga dengan menggunakan PCB bolong.

c. Perancangan pada PCB, mulai dari pelarutan PCB, pengeboran, dan pemasangan komponen.

Landasan Teori

Dalam pembuatan rangkaian Pengisi Baterai Ponsel Darurat membutuhkan beberapa komponen yang terdiri dari IC 555, Transformator (Trafo), Transistor, Resistor, Kapasitor, LED, Accu 12V, PCB.

Terlebih dahulu penulis akan memberikan fungsi kerja dari beberapa komponen yang terdapat di dalam rangkaian tersebut. Pada landasan teori ini akan diberikan penjelasan singkat mengenai komponen – komponen tersebut.



Kajian Teoritik

Hakikat Belajar Pelajaran Ilmu Elektronika

Pelajaran Ilmu Elektronika adalah salah satu mata pelajaran proram kejuruan merupakan kumpulan bahan kajian dan pelajaran tentang ilmu dasar kelistrikan, sehingga pelajaran Ilmu listrik merupakan modal dasar bagi siswa program studi listrik instalasi untuk mempelajari mata pelajaran program kejuruan selanjutnya.

Materi pelajaran ilmu Elektronika mencakup tentang ; (1) sumber arus listrik, (2) rangkaian arus searah, (3) elektrostatika, (4) rangkaian magnet, (5) induksi electromagnet, (6) rangkaian arus bolak balik, (7) rangkaian arus bolak balik 1 fasa, (8) daya dan perbaikan factor daya, (9) impedansi majemuk, (10) rangkaian fasa banyak.

Kesimpulan

Rangkaian Pengisi Baterai Ponsel Darurat adalah suatu rangkaian yang digunakan untuk mengisi baterai ponsel apabila keadaan daya baterai hampir habis. Adapun kelebihan dan kekurangan rangkaian ini adalah :

- Kelebihan

1. Mudah digunakan

2. Portable

3. Tidak menggunakan listrik

- Kekurangan

1. Bentuk sedikit besar

2. Untuk merk Nokia dengan semua tipe baterai tidak dapat diisi dengan dan baterai 9V tapi beberapa diantaranya dapat diisi menggunakan accu kering 12V.

Saran

Berikut ini adalah merupakan saran untuk perbaikan alat, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Jika output pada rangkaian kurang efektif, maka lepas R3 dari kaki pin 3 IC555 dan cek kaki pin 3.

2. Apabila output kurang dari 120V, Q1 dapat diganti dengan TIP41B, TIP41C, NTE196, ECG196 dan Q2 dapat diganti dengan TIP42B, TIP42C, NTE197, ECG197 atau ganti potensiometer dengan trimpot multitune pada R4 agar tegangan dapat dinaikkan sampai 220V AC.

3. Gunakan trafo non CT agar output yang dihasilkan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.

Kepustakaan

[1] URL : http://www.alldatasheet.com

[2] URL : http://www.commlinx.com

Anonim, Modul tutorial Praktikum Elektronika Dasar 1, Lab. Elektronika Universitas Gunadarma, Kalimalang, 2006.

[4] Tokheim, Roger L, Elektronika Digital Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta, 2004.

[5] Malvino, Hanapi Gunawan, Prinsip – prinsip Elektronika Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta, 1981.

[6] URL : http://www.futurlec.com/resistor.shtml

[7] Dra. Sonti Manurung, Drs. Ridwan Rusli, dan Drs. Gimin, Teknik Elektronika Edisi Pertama, Angkasa Bandung, Bandung, 1997.

[8] URL : http://www.futurlec.com/dioda.shtml

Kamis, Juni 18, 2009

Nama : Dini Primaningsih

No. Reg. : 5215083422

Prodi : Pend. Teknik Elektronika

Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

Tanggal : 17 Juni 2009

Tugas!

Hal 3

Alasan mengapa musik sangat penting untuk lingkungan belajar adalah karena musik sebenarnya berhubungan dan mempengaruhi psikologi siswa dan guru sebagai pengajar. {Boobi De Potter, Quantum Teaching Mempraktikkan Quantum Learning di Kelas (Bandung : Kaifa, 2000), hlm.73}.

Ø Diunduh dari : www.google.com

Musik sangat penting untuk perkembangan anak?

Tidak perlu dipungkiri, musik mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita. Dan pengaruh positif musik dalam kehidupan kita merupakan suatu topik menarik untuk dibicarakan. Menarik karena pengaruh positif tersebut relatif tidak terlihat [intangible] walaupun konkrit [dapat kita rasakan]. Pengaruh positif musik tersebut bahkan sudah terjadi pada saat awal perkembangan kita sebagai individu. Musik terbukti sangat membantu perkembangan otak, perkembangan indera, perkembangan kemampuan bahasa, dan kemampuan sosial anak usia dini [hingga 6 tahun]. Dalam beberapa penelitian neuromusikal, musik terbukti membantu perkembangan otak manusia khususnya pada planum temporale bagian kiri, di mana bagian otak ini berperan besar dalam perkembangan bahasa. Dengan hasil penelitian ini, musik dianggap mampu membantu perkembangan bahasa anak. Sebuah fakta menarik tentang perkembangan bayi terjadi pada awal abad 20: Di panti-panti asuhan di Eropa dan Amerika terjadi bencana besar di mana angka kematian bayi berusia di bawah satu tahun mendekati 100%(1), walaupun bayi-bayi itu mendapatkan nutrisi yang cukup. Bencana tersebut mulai dapat teratasi di sebuah panti asuhan di Jerman, setelah pihak panti asuhan menyewa seorang wanita sebagai pengasuh untuk memberikan stimulasi afeksi pada bayi-bayi di sana. Angka kematian yang mendekati 100% tersebut secara drastis menurun setelah bayi-bayi itu diberikan cinta dan sayang oleh si pengasuh. Bagaimanakah memberikan rasa cinta dan sayang kepada bayi? Tiga cara utama untuk mengkomunikasikan cinta dan sayang kepada bayi adalah melalui berbicara, bernyanyi, dan memberikan sentuhan. Kegiatan musikal dapat dengan baik menyampaikan cinta dan sayang itu kepada bayi. Salah satu metode yang efektif dan sering digunakan adalah motherese. Motherese adalah cara khusus berbicara ibu kepada bayinya. Cara ini sarat dengan elemen musikal melalui variasi tinggi nada suara, irama, dinamika, dan warna suara ibu [atau pengasuh]. Ingat-ingatlah kembali ketika Anda melakukannya pada anak Anda [atau keponakan Anda]. Dengan cara ini anak bukan hanya merasakan cinta dan sayang, namun ia juga mulai belajar bahasa lisan. Rangsangan ritmik pada bayi berupa timangan juga terbukti membantu anak untuk lebih cepat mendapatkan bobot yang optimal. Dalam timangan, anak diajak untuk melibatkan seluruh tubuhnya melakukan gerakan ritmik, gerakan teratur berdasarkan ketukan tertentu. Anak yang mendapat timangan juga akan lebih cepat dalam perkembangan indera penglihatan dan pendengaran, serta terbukti lebih cepat mendapatkan siklus tidurnya. Kegiatan bermusik juga membantu perkembangan kemampuan motorik anak. Secara alamiah, elemen ritmik pada musik dapat membuat anak menggerakkan tangan, kepala, dan kakinya. Dengan cara yang tepat, rangsangan ritmik pada anak akan membuatnya belajar mengkoordinasi organ tubuhnya untuk berespon atau melakukan sesuatu dengan baik dan benar [memegang sesuatu, melompat, berjinjit, dll.]. Melalui musik, anak juga belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sebagai contoh adalah permainan hom pim pa, dan sut. Dalam permainan ini kemampuan anak untuk mengeksekusi gerakan sesuai ritme sangat diperlukan: jika terlambat akan dianggap curang, jika terlalu cepat akan sangat dirugikan. Hampir seluruh permainan anak-anak yang dilakukan bersama-sama menggunakan musik dalam bentuk gerak dan lagu. Gerak dan lagu ini membantu anak untuk melibatkan aspek motorik, intelektual, dan emosi anak dalam sebuah kegiatan bersama. Jika kita perhatikan dengan seksama beberapa paragraf di atas, kita dapat melihat bahwa musik dapat membantu anak-anak untuk mengaktualkan potensi motorik, intelektual, dan emosinya. Dan jika kita rujuk pada akar kata pendidikan [Inggris: education, dari bahasa latin: educare yang berarti mengeluarkan, mengaktualkan, dan mengembangkan potensi seseorang] maka musik adalah juga sarana pendidikan bagi anak. Musik dapat membantu anak untuk berkembang, untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Selamat bersenang-senang sambil bermusik dengan anak-anak Anda, masih belum terlambat bagi kita untuk 'mendidik' mereka dengan berkegiatan musik bersama.

Musik klasik dapat menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar, mampu memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial dan dapat mempertajam pikiran dan meningkatkan kreativitas. {Don Campbell, Efek Mozart Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Keatifitas, dan Menyehatkan Tubuh (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm.91}.

Ø Diunduh dari : www.google.com

Musik dan Belajar Baby Einstein is very popular now among young parents wanting their children to develop to their full potential. Brain Gym exercises have been attributed to students focusing better and improved test scores. Bayi Einstein sangat populer di kalangan muda sekarang orang tua yang ingin anak-anak mereka untuk mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Brain Gym latihan telah diberikan kepada para siswa lebih fokus dan meningkatkan nilai ujian. Is there a relationship between physical activity, music and the brain? Apakah ada hubungan antara aktivitas fisik, musik dan otak? Santa Clara Elementary Santa Clara Dasar A school in Florida thinks music is a great benefit in education. Sebuah sekolah di Florida berpikir musik manfaat yang besar di bidang pendidikan. Because of a grant from the South Florida Children's Foundation, the school is putting violins in the hands of 3rd graders through the Violins Against Violence Program. Karena bantuan dari South Florida dari Yayasan Anak-anak, sekolah adalah meletakkan violins di tangan 3. Grader melalui Violins Kekerasan Terhadap Program. While violins are not unique to school programs, Santa Clara is different than most schools with a strings program. Meskipun tidak violins unik untuk program sekolah, Santa Clara berbeda dari sebagian besar sekolah dengan string program. This elementary school has almost 97% of students on free and reduced lunches. SD ini hampir 97% dari siswa bebas dan makan siang dikurangi. The parents in this school would not be able to buy instruments for their children. Orangtua siswa di sekolah ini tidak akan mampu membeli alat untuk anak-anak mereka. Santa Clara is one of 60 schools in Miami-Dade that is offering free lessons in string instruments. Santa Clara merupakan salah satu dari 60 sekolah di Miami-dade yang menawarkan pelajaran gratis di instrumen string. Robert T. Davis, the district's music education supervisor, says, "Numerous studies have shown that children who play instruments do better on standardized tests. Exposure to music also helps with Robert T. Davis, kabupaten musik pengawas pendidikan, mengatakan, "Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak memainkan instrumen yang lebih baik pada tes standar. Pajanan musik juga membantu dengan

· reading, membaca,

· encourages socialization and sosialisasi dan mendorong

· improves a student's focus and commitment." meningkatkan siswa dari fokus dan komitmen. "

Hasil belajar seseorang selain perubahan tingkah laku juga diperoleh dalam bentuk pengetahuan. {W. S Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta : Gramedia, 1989), hlm.71}.

Ø Diunduh dari : www.google.com

Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris. Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil belajar rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan dikuasai siswa (kompetensi) menjadi 5. Unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian. Penilaian proses pebelajaran adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran.

Menurut Hamalik, belajar adalah pertumbuhan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara – cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. {Oemar Malik, Metode Belajar dan Kesulitan Belajar (Bandung : Tarsito, 1982), hlm.28}.

Ø Diunduh dari : www.google.com

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?

Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :

Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.

Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.

Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”

Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.

Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”

Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil – hasil belajar yang dicapai siswa dengan ketentuan criteria tertentu. {Nana Sudjana, Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 1990), hlm.3}.

Ø Diunduh dari : www.google.com

Penilaian hasil belajar merupakan aktivitas yang sangat penting dalam proses pendidikan. Semua proses di lembaga pendidikan formal pada akhirnya akan bermuara pada hasil belajar yang diwujudkan secara kuantitatif berupa nilai.

Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. hasil penilaian tidak hanya bermanfaat untuk mengetahui tercapai tidaknya perubahan tingkah laku siswa, tetapi juga sebagai umpan balik bagi upaya memperbaiki proses pembelajaran.

TUGAS BAHASA INDONESIA

“PERBEDAAN HASIL BELAJAR PRAKTEK ELEKTRONIKA YANG DIIRINGI MUSIK KLASIK DENGAN YANG TIDAK DIIRINGI MUSIK KLASIK”

Dwi Puji Lestia Mukti angk. 2003

Dini Primaningsih angk. 2008

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar praktik elektronika dasar terapan pada siswa kelas XI Kelompok Teknik Elektronika program studi Audio Video SMK N 5 Jakarta Timur yang diiringi musik klasik karya Mozart dengan yang tidak diiringi musik klasik.

Hipotesis : hasil belajar yang diiringi musik klasik lebih tinggi daripada yang tidak diiringi musik klasik. Sampel : 30 orang siswa kelas XI program studi teknik audio video. Instrumen : tes praktik dengan format penilaian. Validitas instrumen : validitas isi.

Reliabilitas diukur dengan rumus alpha cronbach. Data hasil belajar tersebut berasal dari data yang berdistribusi normal. Disimpulkan bahwa hasil belajar praktik elektronika yang diiringi musik klasik lebih tinggi dari hasil belajar praktik elektronika yang tanpa diiringi musik klasik.

Kata kunci : hasil belajar praktik elektronika dasar terapan, musik klasik

A. Pendahuluan

Pengaruh pemeberian musik klasik karya Mozart terhadap hasil belajar praktik elektronika dasar terapan pada siswa kelas XI SMK N 5 Kelompok Teknik Elektronika program studi Audio Video Jakarta Timur

Proses belajar mengajar pada kurikulum sekolah kejuruan lebih menitikberatkan pada praktikum sebab siswa dapat memasuki lapangan kerja, mengembangkan sikap profesional dalam keahlian siswa tersebut, mampu memilih karier, mampu berkompetensi, dan lain – lain.

Elektronika dasar terapan bertujuan untuk siswa memiliki wawasan, pengetahuan dasar, dan keterampilan teknik elektronika, seperti membuat rangkaian amplifier dari gambar rangkaian sampai proses pengetesan.

Elektronika dasar terapan akan menemukan tingkat kejenuhan pada siswa ketika penyampaian teori dan praktik memerlukan perhatian yang besar dan waktu banyak yang membuat fisik dan mental siswa bekerja.

Bila suasana belajar tidak mendukung, keberhasilan proses belajar mengajar akan terganggu. Musik klasik dapat menciptakan suasana merangsang pikiran dalam belajar, mampu memperbaiki konsentrasi ingatan, dan persepsi parsial dan mempertajam pikiran serta meningkatkan kreativitas.

Penelitian hanya dibatasi pada pengaruh pemberian musik klasik karya Mozart terhadap hasil belajar praktik elektronika dasar terapan pada siswa kelas XI SMK N 5 Kelompok Teknik Elektronika program studi Audio Video Jakarta Timur. Hasil belajar yang dimaksud yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif.

B. Kepustakaan

Seseorang dikatakan telah belajar tentang sesuatu apabila telah terjadi perubahan dalam bentuk tingkah laku dan hasilnya dapat dilihat. Hasil belajar seseorang selain perubahan tingkah laku juga diperoleh dalam bentuk pengetahuan [W.S Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta : Gramedia, 1989), h. 36]. Perubahan tingkah laku yang terus menerus timbul sebagai akibat dari persyaratan kondisi. Sifatnya adalah membentuk hubungan antara stimulus dan respon [Nana Sudjana, Teori – teori Belajar Untuk Pengajaran (Jakarta : FEUI, 1990), h. 71]. Setiap perubahan adalah belajar dan setiap belajar adalah perubahan. Belajar membawa perubahan dalam diri individu yang terjadi karena usaha yang disengaja melalui pengalaman dan latihan. Perubahan ini disebut sebagai hasil belajar yang meliputi bidang kognitif, psikomotorik, dan afektif. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, maka diadakan evaluasi atau penilaian hsil belajar.

Pengajaran praktik dilakukan di laboratorium atau bengkel agar siswa dapat menjalankan pengalaman langsung. Melalui keterampilan motorik, anak mengenal diriya sendiri secara konkrit. Bergerak juga meningkatkan kepekaan sensori dan meningkatkan perkiraan yang tepat. Kemampuan visual, auditif, dan sentuhan diperkuat melalui aktivitas gerak [Sri Hermawati Dwi Ariani, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.030 Tahun Ke-7 (Jakarta : DEPDIKNAS, 2001), h. 328].

Praktik keterampilan elektronika adalah bagian dari metoda eksperimen bertujuan agar siswa aktif melakukan percobaan, meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dan mengembangkan kemandirian siswa dalam bekerja. Metode dalam pengajaran praktik adalah pengajaran praktik menggunakan jobsheet (lembar kerja siswa atau sebagai instruksi tertulis yang terutama menetapkan langkah – langkah pokok dalam melaksanakan penyelesaian pekerjaan yang ditetapkan [Bambang Dharma Putra, Seri BPM Metodologi Pengajaran (Jakarta : FPTK IKIP Jakarta, 1988), h. 1]. Penilaian hasil belajar praktik yaitu metode pelakasanaan praktik, keselamatan kerja, dan ketepatan waktu untuk menyelesaikan praktik

Musik klasik mempunyai banyak keistimewaan, seperti memperlambat dan menyeimbangkan gelombang otak, dapat mempengaruhi denyut jantung dan tekanan darah. Musik juga dapat memperkuat ingatan dan pelajaran, mempertajam pikiran, dan dapat menyehatkan tubuh. Ritme, melodi, dan keharmonisan dari musik klasik sebagai stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Pemberian musik sesungguhnya telah menyeimbangkan fungsi kerja otak kiri dan kanan berarti menyeimbangkan perkembangan aspek inteletual dan emosional [Ibid, h. 41]. Musik klasik karya Mozart dapat menyeimbangkan dan memperlambat gelombang otak dan menenangkan pendengar. Jadi, hubungan musik dengan fungsi otak mempunyai hubungan yang positif karena dengan pemberian musik maka keseimbangan otak kanan dan kiri dapat terjaga.

Musik klasik sangat mempengaruhi hasil balajar praktik elektronika dasar terapan karena praktik membutuhkan waktu lama, energi terkuras, dan menimbulkan kejenuhan. Musik klasik juga sebagai sarana untuk membantu siswa dalam menghilangkan ketegangan. Suasana praktik yang positif didukung dengan pemberian musik saat belajar. Jika tanpa diiringi musik klasik, siswa akan merasa jenuh dan kurangnya konsentrasi. Tetapi dengan menggunakan musik klasik karya Mozart, siswa dapat mengerjakan pekerjaan mental yang melelahkan sambil tetap rileks dan konsentrasi.

Maka hipotesis penelitiannya yaitu “Hasil belajar praktik elektronika dasar terapan siswa kelas XI SMK N 5 Jakarta yang diiringi musik klasik karya Mozart lebih tinggi daripada yang tidak diiringi musik klasik”.

Tujuan umum penelitian yaitu untuk mengetahui perbedaan hasil praktik keterampilan elektronika pada siswa kelas XI SMK N 5 Jakarta Timur Kelompok Elektronika program Keahlian Audio Video Jakarta Timur yang diiringi musik klasik karya Mozart dengan tidak diiringi musik klasik.

C. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen.

D. Hasil Penelitian

Tabel 1 merupakan hasil belajar praktik elektronika dasar terapan yang diiringi musik klasik, sedangkan tabel 2 merupakan hasil belajar praktik elektronika dasar terapan yang tanpa diiringi musik klasik.

Tabel 1

No. Siswa

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Nilai

86

86

86

83

84

84

83

86

84

87

87

84

86

84

87

Tabel 2

No. Siswa

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Nilai

75

76

72

73

72

77

72

71

73

74

73

75

73

74

77

Untuk menentukan teknik analisis data yang digunakan perlu dilakukan uji pengamatan analisis, yaitu uji homogenitas (pengujiannya menggunakan uji kesamaan dua variasi karena sampel terdiri dari dua kelompok) dan uji normalitas (pengujiannya menggunakan uji Liliefors).

Dari perhitungan nilai simpangan baku perbedaan rata – rata didapat nilai sebesar 1,670 dan dari perhitungan diperoleh nilai t hitung sebesar 18,883. Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis nol yang dipergunakan bila Lohitung>ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Maksudnya ada perbedaan antara hasil belajar praktikum kelompok kelas yang diiringi musik klasik dengan yang tanpa diiringi musik klasik.

Dalam penelitian ini terdapat beberapa kelemahan dan keterbatasan seperti kreativitas, motivasi, minat, proses belajar mengajar, tes, dan lain – lain. Untuk variabel bebasnya masih belum mampu menjamin sebagai alat ukur yang baku, tetapi penggunaan musik klasik mempunyai hubungan positif dengan hasil belajar praktik elektronika dasar terapan di SMK N 5 Jakarta.

Adapun kelemahan – kelemahan dalam penelitian, seperti :

1) Penggunaan musik klasik saat praktik masih kurang relevan dilihat dari sisi siswa yang praktik adalah siswa STM yang notabenenya memiliki jiwa yang keras dan ada kemungkinan tidak menyukai musik klasik.

2) Ada kemungkinan kelas yang diiringi musik klasik memang lebih pintar sebelum diberi perlakuan musik klasik karena sebelumnya tidak diadakan tes awal.

3) Penilaian guru yang sudah mengetahui siswa yang dinilai berada pada sampel yang mana sehingga kemungkinan ada manipulasi data oleh guru yang memberi nilai.

4) Penelitian hanya dilakukan satu kali.

5) Tidak adanya alat untuk mengukur dB (dBmeter) yang digunakan untuk mengukur gelombang suara yang dihasilkan musik klasik yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan fungsi otak.

E. Pembahasan

Dari tabel 1 diperoleh data dengan rentang skor antara 83 sampai 87. Jumlah skor 1277 dengan rata – rata 85,13. Median diperoleh pada skor 86 dan modus terdapat pada skor 84 dan 86. Varians skor diperoleh sebesar 2,12 dengan simpangan baku sebesar 1,457. Kemudian dapat diperoleh distribusi frekuensi skor hasil belajar praktik elektronika dasar terapan yang diiringi musik klasik.

Dari tabel 2 diperoleh data dengan rentang skor antara 71 sampai 77. Jumlah skor 1,107 dengan rata – rata 73,80. Median diperoleh pada skor 73 dan modus terdapat pada skor 73. Variansi skor diperoleh sebesar 3,457 dengan simpangan baku sebesar 1,859.

Hasil uji homogenitas variansi populasi :

Antar Kelompok

N

Fhitung

Ftabel

Kriteria Pengujian

Kesimpulan

X1 – X2

N1 = 15

N2 = 15

0,783

2,480

Fhitung <>tabel

Populasi Homogen

Berdasarkan kriteria pengujian bahwa Fhitung <>tabel atau 0,783 <>0 diterima. Jadi, kelompok sampel yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari populasi yang homogen.

Data yang diperoleh dari uji normalitas diuji kenormalannya dengan tarif signifikansi α = 5% atau 0,05 dan n = 15. Kriteria pengujian ini adalah jika Lo > Ltabel maka data berdistribusi normal. Hasil uji normarlitas data :

No.

Kelompok

α

N

Lohitung

Lotabel

Hipotesis

Kesimpulan

1

Diiringi musik klasik

0,05

15

0,1461

0,220

Lhit <>t

Distribusi normal

2

Tanpa diiringi musik klasik

0,05

15

0,1334

0,220

Lhit <>t

Distribusi normal

Nilai sebesar 1,670 dan dari perhitungan diperoleh nilai t hitung sebesar 18,883 sedangkan nilai ttabel untuk derajat kebebasan (dk) = 30 – 2 = 28 pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,70.

F. Kesimpulan dan Saran

Perbedaan hasil belajar praktikum elektronika dasar terapan, yaitu kelompok kelas yang praktik diiringi musik klasik lebih tinggi dari hasil belajar kelompok kelas yang praktik tanpa diiringi musik klasik.

Menggunakan iringan musik (terutama musik klasik) pada proses praktikum keterampilan teknik elektronika. Adanya penelitian lebih lanjut disertai dengan penyempurnaan instrumen dan sampel lebih banyak.

G. Daftar Pustaka

Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Suharsimi, Arikunto. 1992. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta : Kanisius.

Campbell, Don. 2001. Efek Mozart Bagi Anak – anak. Jakarta : Gramedia.

De Potter, Boobi. 2000. Quantum Teaching Mempraktikan Quatum Learning di Kelas. Bandung : Kaifa.

Sabtu, Juni 13, 2009

TUGAS JURNAL

DEWI PUJI LESTARI



Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Penerapan Komponen Rangkaian Elektronika Melalui Metode Permainan Game Roller dan Alat Peraga Elekronics Workbench Pada Unjuk Kerja Rangkaian Sekuensial
(Suatu Penelitian Tindakan Pada Kelas II di SMK Negeri 39)

Muhammad Ilham Lulus Tahun 2006
Dewi Puji Lestari 5215083401

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki mutu kinerja pembelajaransecara berkesinambungan pada mata Diktat Penerapan Komponen Rangkaian Elektronika (PKRE) melalui metode permainan game roller dan alat peraga electronics workbench. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Penerapan metode ini diharapkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengajaran pada mata Diktat PKRE.
Berdasarkan teori yang relevan, dirumuskn hipotesis penelitian adalah :
“Hasil belajar teori yang diiringi dengan metode permainan dan praktik dengan pengajaran alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.”

Kata kunci : Mata Diklat PKRE, Game Roller dan EWB


Latar Belakang

Guru merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran yang menberikan pengaruh dominan terhadap prestasi belajar siswa. Guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dapat membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran.
Pada pembelajaran produktif, khususnya pada mata pembelajaran PKRE masih dianggap sulit dan penyajiannya masih bersifat monoton sehingga siswa menjadi bosan. Hal ini disebabkan tidak ada dinamika, inovasi dan siswa belum dilibatkan secara aktif yang dapat menimbulkan kompetisi diantara siswa.
Untuk memperbaiki aktivitas diatas, usaha yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan menggunakan metode permainan “Game Roller” dan alat peraga berupa tampilan skema dari program Elektronics Workbench (EWB) melalui media pembelajaran komputer.
Melalui permainan tersebut nantinya akan digunakan guru dalam memberikan permainan berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditentukan oleh mesin, dan tentunya berbeda-beda. Sedangkan alat peraga pada program EWB digunakan oleh guru dalam pengajaran praktik sebagai simulasi dari pembelajaran pembuatan skema rangkaian elektronika dan membuktikannya.


Pembatasan Masalah

Ruang lingkup permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah penggunaan metode permainan Game Roller dan Elektronics Workbench (EWB) terhadap peningkatan hasil belajar teori dan praktik pada mata Diktat PKRE dengan penerapan teknik digital pada rangkaian sekuensial.


Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah hasil belajar teori PKRE siswa yang diiringi pengajaran melalui metode permainan Game Roller lebih tinggi dari hasil belajar sebelum dengan metode permainan ?
2. Apakah hasil belajar praktek PKRE siswa dengan jobsheet dan diberi pengajaran menggunakan program EWB lebih tinggi dari siswa yang hanya diberi lembar jobsheet ?


Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan agar dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak, antara lain :
1. Bagi siswa, agar mengurangi rasa malas terhadap pelajaran PKRE dan mengubah menjadi pelajaran yang menyenangkan.
2. Bagi guru, menambah lebih banyak variasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas system pembelajaran di kelas.
3. Bagi peneliti, sebagai tambahan wawasan pengetahuan untuk menangani masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran PKRE, sehingga dapat menerapkan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar.
4. Bagi mahasiswa, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan penelitian lanjutan di masa mendatang.
5. Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran PKRE.


Kajian Teori

Makna Pendidikan SMK
Sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan menengah kejuruan merupakan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi dilingkungan kerja, melihat peluang kerja, dan mengembangkan diri dikemudian hari.
Dengan demikian tujuan SMK, yaitu sebagai bentuk satuan pendidikan kejutan sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan pasal 15 UU SISDIKNAS, merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.

Mata Diktat PKRE
Mata Diklat Penerapan Komponen Rangkaian Elektronika merupakan bagian dari program bidang keahlian yang diajarkan kepada siswa kelas II SMK Program Keahlian Teknik Elektronika Industri.
Program produktif atau yang dikenal sebagai program bidang keahlian bersifat melayani permintaan pasar, karena itu lebih banyak ditentukan oleh dunia usaha atau dunia industry. Program produktif diajarkan secara specific sesuai dengan kebutuhan tiap program keahlian.
Kemampuan produktif yang termuat dalam Mata Diklat PKRE adalah menerapkan komponen elektronika dalam rangkaian elektronika. Sub kompetensi yang termasuk adalah menguasai elektronika digital dengan kriteria unjuk kerja pada semester ganjil mencakuprangkaian sekuensial, yaitu rangkaian yang dapat bekerja berdasarkan sekuensi, urutan sesudah terlaksananya suatu instruksi, dan dipasang ulang (Reset), agar menunjukan alamat ingatan baru. Rangkaian ini terdiri atas : rangkaian dasar flip-flop, register, pencacah, serta dekonder dan enkoder.

Hasil Belajar Teori Dengan Metode Permainan
Suatu persoalan jika dihdapi dengan perasaan tegang atau “tidak luwes” akan menyulitkan apa yang hendak diinginkan, bahkan hingga tidak menghasilkan apa-apa. Sebab hal itu mencerminkan kurang adanya pemusatan pemikiran. Ibarat melakukan dua pekerjaan yang bertentangan dalam satu waktu.
Begitu pula dengan PKRE, jika dalam belajar teori dihadapi dengan tegang justru akan menyulitkan dalam penguasaannya. Perasaan tegang ketika belajar PKRE akan menghambat kreativitas siswa. Untuk itu diperlukan suatu teknik atau metode yang tepat dalam pembelajaran Penerapan Komponen Rangkaian Elektronika, sehingga membuat proses belajar mengajar dalam kondisi yang menyenangkan.
Untuk itu dalam melaksanakan evaluasi belajar pada hasil belajar teori pada Mata Diklat PKRE, harus adanya pembaruan dengan memasukkan metode permainan “ Game Roller” dalam mengevaluasi sekaligus membangun keterampilan, penanaman konsep, pemahaman, dan pemantapan.

Hasil Belajar Praktik Dengan Alat Peraga
Dalam proses belajar siswa dituntut aktif untuk berinteraksi. Interaksi aktif siswa dapat ditunjang dengan memanipulasi alat peraga, seperti mengamati, meraba, maupun meneliti. Memanipulasi alat peraga pada pelajaran PKRE sangat membantu siswa untuk memahami konsep yang abstrak.

Kerangka Berfikir

Belajar yang bermakna dapat berlangsung bila anak didik berperan secara aktif dalam proses belajar mengajar, sehingga anak mempunyai pengalaman sendiri dalam menerima pengajaran. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar tidak lagi bersifat “teacher centered” (berpusat pada guru) tetapi menjadi “child cemtered” (berpusat pada anak).
Game Roller beserta program EWB merupakan beberapa metode pengajaran yang ditawarkan, yang khusus digunakan dalam teori dan praktik perakitan suatu rangkaian berbasis elektronika dan digital. Permainan Game Roller ini disesuaikan dengan kebutuhan teori dan dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan dalam belajar. Dengan diiringi permainan akan memudahkan siswa dalam memahami sisi materi. Begitu juga dengan alat peraga berupa program EWB. Penerangan simulasi dengan bantuan media computer yang telah diinstal EWB akan membuat siswa lebih mengerti prinsip-prinsip kerja dari skema rangkaian elektronika disamping memudahkannya dalam merangkai rangkaian tersebut. Sehingga dengan menggunakan program EWB, guru lebih mudah menjelaskan dari rangkaian yang akan dirakit siswa.


Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 39 Jakarta, Jalan Cempaka Putih Tengah IV No.2, Jakarta Pusat. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester 1, tahun ajaran 2005/2006, yaitu bulan September 2005 sampai Januari 2006.


Hasil Penelitian
Deskripsi Data
· Pada tindak I, Metode permainan Game roller yang dipersiapkan peneliti bersama guru, ternyata dapat menarik perhatian siswa, karena siswa menjadi berani bertanya, menjawab, serta berpendapat. Siswa merasa pertanyaan-partanyaan yang tertera di dalam kotak Game roller dapat membantunya dalam memahami materi yang diajarkan guru, meskipun dari hasil tes evaluasi yang diadakan setelah penyajian materi terlihat siswa belum menguasai seluruh konsep. Hal ini mungkin karena alokasi waktu yang terlalu sempit saat siswa menjawab tes evaluasi tersebut.
· Dalam tindakan II, penentuan waktu yang tepat ditambah penggunaan alat peraga electronics workbench saat praktik, sangat membantu siswa dalam memahami konsep materi. Game roller dianggap sebagai bahan kumpulan soal-soal yang lebih sederhana sehingga dapat dipahami lebih baik dari pada soal di buku paket. Pengajuan pertanyaan membuat para siswa harus selalu siap dalam menghadapi pelajaran. Di samping itu, penggunaan media komputer lebih bermanfaat, karena tidak hanya untuk mengetik.
· Tindakan III ini dilakukan peneliti bersama guru untuk meninjau kembali apakah dengan diterapkannya kedua metode tersebut, yaitu metode permainan dan alat peraga dapat menghasilkan nilai PKRE yang lebih baik, ternyata, hasil yang diperoleh pada tindakan III menunjukkan peningkatan.

Temuan Penelitian

· Peranan guru dalam mengelola kelas sehingga tercipta perubahan sikap siswa.
· Peningkatan pemahaman konsep setelah diberikan metode permainan game roller pada penjelasan teori dan metode alat peraga berupa tampilan program electronics workbench saat praktikum.
· Faktor intelegensi siswa yang merupakan salah satu factor keberhasilan bagi dari siswa sendiri.


Daftar Pustaka

Anas Sudijono. Pengantar Slatistik Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali Press, 1991.
Bobbi DePorten, Mark Readon, dan Sarah Singer-Nourie. Quantum Teaching, terjemah Ary Nilan. Boston: Allyn and Bacon, 1999.
Depdiknas, Materi Pelalihan Terintegrasi, Jakarta: Depdiknas, 2005.
Dikmenjur. Kurikulum SMK Edisi 2004. Jakarta: Depdiknas, 2004.
Drs. Slameto. Belajar dan Fakto-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta, 1987.
Hopkins D. A Teacher's Guide To ClassrooM Research. Philadelphia: Open University Press, 1987.
KF Ibrahim. Teknik Digital. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta, 2002.
Lathuheru Jhon. Media Pembelajaran. Jakarta: P2LPTK, 1988.
L. J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994
Miles dan Huberman. Analisi Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia, tanpa
tahun, terjemahan Tjetjep R. Hohidi.
Moh Nazir. Melode Penelilian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.
Nana Sudjana. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru, 1991.
Oemar Hamalik. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1994.
Pengantar Tehnik Digital Teori dan Praktek. Binatronika.
Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Sualu Pendekatan Praktek. Bandung: Rineka Cipta, 1998.